BETERNAK LEBAH MADU BAGI PEMULA

A. Lokasi Perlebahan (Apriari)
Penentuan lokasi apiari perlu mempertimbangkan ketersediaan
pakan, pendataan jenis -jenis tanaman penghasil nektar dan pollen,
umur tanaman, kepadatan tanaman, serta kesuburannya. Kondisi lokasi
apiari sangat erat kaitannya dengan penempatan jumlah stup
pemeliharaan persatuan luasnya (Ha). Hal ini dimaksudkan untuk
mencapai daya dukung optimal apiari terhadap jumlah stup/koloni yang
ada. Kompetisi lebah dalam mencari pakan dapat menyebabkan
turunnya produksi atau terganggunya keseimbangan populasi lebah
dan bahkan memungkinkan hijrahnya lebah. Lebah madu biasanya
mencari makan dalam radius 3 km dari sarang, tetapi kadang-kadang
mereka melakukan perjalanan jauh jika memang harus.

Lokasi perlebahan yang standard adalah tanah harus bebas
pupuk sintetis, pestisida, herbisida dan fungisida, serta bebas tanaman
rekayasa genetika. Apriari sebaiknya jauh dari lokasi pertanian
konvensional untuk mencegah potensi terjadinya kontaminasi. Jarak
lokasi pertanian intensif sebaiknya minimal 3 km dari lokasi perlebahan.
Sementara sarang yang ditempatkan di wilayah pemukiman harus
mendapatkan peraturan yang lebih khusus dari penduduk.

Areal perlebahan harus dipersiapkan sebelumnya sebelum
menempatkan kotak-kotak sarang, karena aroma dari penyiangan
biasanya mengganggu lebah. Perlebahan harus tetap bersih dan rapi
sepanjang waktu. Kawasan peternakan lebah harus memiliki drainase
dan sirkulasi udara yang baik. Lebah membutuhkan air, jadi mereka
harus dapat menemukan air dalam radius 500 m. Kadang-kadang air
dapat disediakan dalam wadah khusus yang ditempatkan pada tongkat
kayu atau diatas batu agar mudah dijangkau lebah.

Sarang harus dilindungi dari angin kencang. Sarang juga harus
dilindungi dari terik matahari dengan menyediakan naungan parsial.
Selama musim kering, penahan api dapat dibuat di sekitar tempat
pemeliharaan lebah untuk mencegah kebakaran sarang-sarang.

B. Pembuatan Kotak Sarang (Stup)
Beternak lebah secara modern yaitu menggunakan kotak lebah.
Dengan cara ini ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh, yaitu

(1) desain kotak memungkinkan untuk diterapkan teknik-teknik
manajemen koloni; (2) pada saat panen madu, tidak perlu
mengorbankan anaknya, karena sarang yang berisi anakan lebah
(brood) dapat dikembalikan di tempatnya semula.
Bahan stup yang baik terbuat dari kayu yang sudah kering dan
tidak berbau menyengat. Hal ini menghindari pindahnya koloni lebah
karena tidak betah dan pengaruh dari bau kayu tersebut. Untuk
menjaga keawetan stup, bagian luar kayu dapat dicat dengan cat
eksterior berwarna terang. Hal ini bertujuan untuk melindungi kayu dari
pelapukan.

Sarang yang sudah dipakai berulang-ulang biasanya akan
meninggalkan kotoran yang larut dalam lemak berupa residu pestisida
dan kulit kepompong. Seiring waktu, residu pestisida menumpuk, dan
memiliki efek yang merugikan pada pengembangan lebah induk. Kulit
kepompong yang menumpuk dapat mempersempit sel-sel heksagonal,
dan dapat menjadi tempat berkembangnya spora penyebab penyakit.
Dengan demikian, dibutuhkan penggantian sisiran secara reguler untuk
meminimalkan paparan bahan kimia ini. Setidaknya 20% sisiran (sekitar
2-3 sisiran) dari kotak stup harus diganti setiap tahun sehingga tidak
pernah ada sarang yang lebih dari 5 tahun (Certified Naturally Grown,
2012).

Persiapan sarang dilakukan dengan menggosok bagian dalam
sarang dengan propolis atau dengan lilin lebah yang sudah diencerkan
atau dilunakkan. Kotak sarang juga dapat ditempatkan pada tanah,
menggantungkannya pada batang pohon, atau ditempatkan diatas
dudukan (standar). Dasar pijakan harus kuat jika ingin ditempatkan
dalam posisi bertingkat. Yang diperhatikan adalah ketinggian
penempatan sarang.

C.
Mempersiapkan Bibit Lebah dan Pemindahan Koloni
Untuk mendapatkan bibit lebah yang akan dipelihara dapat
ditempuh dengan cara-cara sebagai berikut :


Berburu, yaitu dengan cara menangkap lebah dari hutan, atap
rumah atau dari pohon, dan lain-lain.

Memasang perangkap berupa stup kosong/glodog yang sudah
biasa ditempati lebah di tempat-tempat tertentu.

Membeli ratu atau koloni lengkap dengan stup/glodog dari para
penangkap lebah.
1) Berburu atau menangkap di alam
Dalam melakukan perburuan lebah perlu untuk menyiapkan
peralatan berupa kurungan ratu, kotak buru (seperti kotak eram hanya
dengan 3-5 sisiran), kain kasa hitam berbentuk kerucut (seperti jaring).
Apabila ditemukan koloni maka segera mencari lebah ratu, dan
diamankan dalam kurungan ratu. Kain kasa dibiarkan dalam posisi
terbalik (menghadap ke bawah) yang diletakkan di atas koloni, dan
selanjutnya lebah diusik supaya lebah terbang semua dan akhirnya
hinggap di kain kasa tersebut. Agar lebah pindah dari sarangnya, dapat
diganggu sedikit dengan asap obat nyamuk atau rokok. Apabila lebah
sudah masuk dalam kain kasa, kemudian ditutup, diikat dan siap
dibawa pulang. Selanjutnya sarang dipilih dan dipindahkan ke
sisiran/frame. Pilih sarang yang masih bagus keadaannya (ada madu,
pollen dan anakan). Potong secara hati-hati sarang tersebut dan
ditempelkan pada sisiran (bingkai) serta diikat. Simpan/masukkan
sarang yang sudah melekat pada sisiran tersebut dalam kotak buru.
Selanjutnya koloni tersebut ditertibkan dalam kotak eram dengan
menyertakan bingkai yang ada sarangnya.

2) Memasang Perangkap

Lebah A.cerana biasanya membuat sarang ditempat-tempat
gelap atau rongga-rongga kosong. Penyediaan bibit lebah juga dapat
dilakukan dengan pembuatan tempat pemancing yaitu glodog (klutuk).
Cara ini sifatnya pasif, karena kita hanya menunggu sampai ada koloni
lebah yang mau bersarang di dalamnya. Glodog terbuat dari batang
kelapa yang dibuat rongga/lubang. Glodog yang akan dipakai harus
kering untuk menghindari pertumbuhan jamur.

Pemindahan sarang dari glodog harus dilakukan secara hatihati.
Setelah stup siap, glodog yang telah diambil dibuka dan dibalik
pelan-pelan tepat dibawah stup. Dengan pelan dan halus klutuk
diketuk-ketuk untuk mempercepat pemindahan lebah tersebut ke dalam
stup. Setelah semua pindah, sarang dipindahkan ke sisiran dan
dibentuk sesuai dengan sisiran. Sarang yang sudah dibentuk diikat
dengan tali raffia/benang dan dilekatkan pada frame yang telah
diambil, selanjutnya dimasukkan ke dalam stup. Supaya betah, lebah
yang baru dipindah diberi makanan tambahan berupa cairan gula
pasir/gula jawa.

Lebah yang baru dipindahkan kadang tidak menempati sarang
mereka sendiri sehingga harus dipindahkan kembali. Lebah mudah
dipindahkan ketika mereka berkerumun. Swarming adalah proses
menghasilkan koloni baru. Lebah berkerumun untuk alasan yang
berbeda, yaitu ketika mereka penuh sesak sebelum musim madu,
ketika sarang hancur dan sumber makanan atau air menjadi langka,
kegagalan ratu untuk bertelur secara tiba-tiba, panas atau ventilasi
yang buruk dari sarang lebah, kurangnya ruang untuk bertelur dan
penyimpanan madu.

Kerumunan lebah dapat ditemukan tergantung di pohon atau di
bawah bangunan. Kerumunan itu harus ditangkap segera dan
dipindahkan ke sarang. Cara pemindahan dilakukan dengan
mengguncang lebah ke dalam keranjang, labu kosong atau kotak
kardus, kemudian dipindahkan ke sarang kosong baru. Setelah
dipindahkan, biarkan lebah tak terganggu selama beberapa hari.
Setelah tenang, lebah mulai menyimpan makanan dan merawat bayibayi
lebah.

Sarang untuk umpan menangkap lebah sebaiknya ditempatkan
tinggi di pohon atau di atap. Ketika lebah telah menempati posisi
sarang baru, lebah akan mulai menyesuaikan diri pada posisi sarang.
Karena itu, disarankan untuk menempatkan sarang di tempat yang
berdekatan dengan posisi menangkap lebah. Sarang dapat dipindahkan
ke tempat yang diinginkan atau ke posisi yang jauh setelah beberapa
minggu.

3) Membeli ratu atau koloni lengkap dengan stup/glodog

Penyediaan bibit bisa juga dilakukan dengan cara pemilihan
bibit unggul yang sudah dikomersilkan. Bibit lebah unggul yang di
Indonesia ada dua jenis yaitu A.cerana(lokal) dan A.mellifera(impor).
Ratu lebah merupakan inti dari pembentukan koloni lebah, oleh karena
itu pemilihan jenis unggul ini bertujuan agar dalam satu koloni lebah
dapat produksi maksimal.

D. Penempatan Stup Budidaya
Tindakan selanjutnya setelah penentuan lokasi adalah
penempatan stup/kotak-kotak pemeliharaan pada lokasi pemeliharaan.
Stup sebaiknya diletakkan pada tempat-tempat terbuka, menghadap ke
timur, menghadap matahari dan membelakangi jalan pemeriksaan.
Stup diletakkan di atas bangku standar dengan ketinggian ± 50 cm dari
tanah. Jika lokasi berbukit, stup letaknya harus lebih rendah dari
sumber makanan. Tiang penyangga (bangku standar) stup diberi
minyak pelumas, air atau obat semut agar tidak diganggu serangga.
Stup/koloni sebaiknya terlindung dari terik matahari dan air hujan.
Kotak stup dapat disusun berderet dengan jarak 1 s/d 1,5 meter.

E. Pemeriksaan Koloni
Pemeriksaaan koloni bertujuan untuk memeriksa kondisi dan
perkembangan koloni lebah itu sendiri. Waktu terbaik untuk memeriksa
koloni adalah ketika hari terang atau cerah, ketika lebah bekerja secara
normal yaitu pada pagi hari (jam 06.00 s/d 10.00) atau sore hari (jam
16.00 s/d 18.00) yakni saat lebah dewasa banyak keluar sarang. Lebah
tidak boleh terganggu karena cuaca dingin, hujan, angin kencang atau
di malam hari.

Tahapan pemeriksaan adalah sebagai berikut:

1. Pemeriksaan stup (kotak koloni ).
-Pemeriksaan stup dilakukan pada pagi hari atau sore hari.
Jangan sekali-kali memeriksa stup pada siang hari (panas)
karena lebah sangat agresif.
-Membuka stup, harus dari arah belakang, samping kiri atau
kanan. Pembukan dari depan pintu masuk dapat menghalangi
lebah pekerja yang akan masuk membawa makanan. Bila mereka
terhalang, mereka akan marah dan menyengat.
-Untuk menenangkan lebah pada saat pemeriksaan, hembuskan
asap rokok atau asap sabut kelapa dengan alat smoker ke dalam
stup secara pelan-pelan 1-3 kali. Hindari meniupkan asap yang
berlebihan, hal ini akan membuat lebah menjadi agresif.
-Setelah lebah-lebah dalam keadaan tenang, periksa koloni
dengan perasaan mantap, sabar dan tenang. Satu demi satu
frame diperiksa, dimulai dari frame nomor dua dari kiri pegang
kedua ujung frame angkat pelan-pelan ke atas, amati dengan
teliti, bagian sarang, madu, dan larva. Setelah diperiksa, frame
ditempatkan di tempat lain. Selanjutnya ambil frame nomor satu
kemudian 3 dan seterusnya, hal ini dilakukan untuk menghindari
agar ratu tidak terganggu atau terhimpit.

-Pemeriksaan cukup dilakukan setiap seminggu sekali.

2. Pemeriksaan koloni (kontrol koloni)
Pemeriksaan koloni bertujuan untuk mengamati kebersihan

stup, gangguan hama penyakit, isi sarang, keadaan ratu, perbandingan

lebah pekerja dengan lebah jantan, dan tujuan pengurusan lainnya.

Tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:

-Periksa frame-frame yang tersedia, bila dijumpai frame yang sudah

penuh maka perlu ditambahkan frame baru di tengah-tengah
frame terpasang. Tetapi bila koloni lemah sebaiknya penambahan
frame di tepi bingkai/frame terpasang.

-Bila terdapat sarang yang bagian tengahnya berwarna hitam, ini
merupakan tanda bahwa sarang itu terkena penyakit. Langkah
yang diambil adalah sarang ini dibakar, dibuang.

-Bila dalam satu koloni perbandingan antara lebah pejantan dan
pekerja lebih banyak lebah pejantannya, maka tindakan yang
harus dilakukan membunuh lebah pejantan (membuang telurtelurnya).
Kebutuhan lebah jantan berkisar 200-300 ekor saja
dalam satu koloni.

-Keadaan ratu perlu diamati, apakah masih aktif melaksanakan
tugasnya (bertelur), atau sudah ada ratu baru (pengganti). Proses
penggantian ini berjalan secara alami. Ratu baru aromanya lebih
menyengat, banyak dikerumuni lebah-lebah, sementara ratu lama
kurang pengikut, diusir atau dibunuh.

-Perlu adanya keseimbangan perbandingan antara tepung
sari/pollen dan nektar di dalam sarang, karena akan mengganggu
proses kehidupan lebah. Bila dalam sarang lebah banyak tepung
sari berarti tanaman yang mengandung nektar kurang, maka perlu
dilakukan pengangonan pada lokasi dengan tanaman-tanaman
penghasil nektar, begitu juga sebaliknya.

-Bagian tengah sarang biasanya sebagai pengeraman yang berisi
telur, larva, pupa.

-Ada pengeraman terbuka, yaitu berisi telur dan larva, dan
pengeraman tertutup sebagai tahap perkembangan kelanjutan
(pupa menjadi anak).

-Disekeliling pengeraman bagian atas disimpan tepung sari
(sporadis).

-Dan bagian atas/tepi adalah sel-sel untuk menyimpan madu.

-Sedangkan sel-sel menonjol memanjang pada bagian bawah

sarang adalah sel-sel calon ratu ( berjumlah 2 atau lebih )

F. Manajemen Koloni
1) Penggabungan Koloni

Produktivitas koloni lebah tergantung pada jumlah lebah
pekerjanya. Seorang pemelihara lebah terkadang perlu menggabung
dua koloni yang lemah menjadi satu koloni yang lebih kuat atau antara
koloni yang tidak mempunyai ratu dengan koloni lain yang keadaan
ratunya masih baik. Apabila kedua koloni masih mempunyai ratu,
pilihlah salah satu yang diperkirakan lebih baik, kemudian ratu yang lain
dimatikan.

Cara penggabungan koloni dapat dilakukan dengan meletakkan
kotak eram yang tidak mempunyai ratu diatas kotak eram yang lain.
Diantara kedua kotak eram tersebut letakkan kertas yang diberi lobanglobang
kecil dan dioles dengan cairan gula/madu. Pertemuan antar
kedua koloni dimulai dari saling menghisap cairan tersebut. Dalam satu
atau dua hari biasanya lebah telah menembus kertas penyekat
tersebut, dan secara bertahap kedua koloni akan bercampur karena
adanya pencampuran aroma. Penggabungan sebaiknya dilakukan pada
petang hari.

2) Pemecahan Koloni

Pemecahan koloni didahului oleh adanya pembentukan sel ratu
baru di saat masih ada ratu. Sel ratu ini sebagai pertanda akan adanya
usaha lebah untuk mengadakan reproduksi atau pemecahan koloni.
Karena itu diperlukan pemeriksaan yang teratur dan teliti agar tidak
terjadi pemecahan koloni secara liar yang akan merugikan kita.

Prosedur pelaksanaannya adalah pemeriksaan keadaan lebah
ratu. Bila ratu masih produktif, semua sel ratu yang ada diambil agar
tidak menetas. Hal ini untuk mencegah pemecahan koloni. Bila ternyata
keadaan ratu sudah kurang baik, sehingga perlu mengganti ratu baru.
Lebah ratu yang kurang produktif diambil, dan sisakan satu sel ratu
yang dianggap paling baik supaya menetas.

3) Penggantian Ratu Baru

Masa produktif lebah ratu mempunyai jangka waktu tertentu,
oleh karena itu suatu saat perlu dilakukan penggantian ratu. Salah satu
caranya yaitu dengan dengan melakukan pemecahan koloni.

4) Mengintroduksikan atau memberikan lebah ratu dari koloni lain

Caranya lebah ratu yang lama harus diambil terlebih dahulu.
Ratu pengganti harus berada dalam kurungan ratu selama masa
pengenalan kurang lebih selama dua hari, untuk menjaga dan
mencegah pengeroyokan oleh lebah pekerja. Kurungan ratu dijepit
diantara dua frame.

5) Merangsang pembentukan sel calon ratu.

Caranya yaitu kita ambil/matikan lebah ratunya. Dengan tidak
adanya aroma ratu, maka lebah pekerja akan segera membentuk ratu
baru. Cara ini hanya bisa dilaksanakan apabila di dalam sarang koloni
tersebut masih ada telur yang dibuahi.

6) Memberikan sel calon ratu dari sarang koloni lain.

Caranya yaitu kita ambil satu bingkai/frame yang ada sel calon
ratunya dari koloni lain, dan lebah yang menempel pada frame tersebut
kita halau supaya tidak ikut ke stup yang memerlukan sel calon ratu.
Ratu yang lama harus disingkirkan lebih dulu untuk mencegah
terjadinya pemecahan koloni.

7) Manipulasi Sarang

Manipulasi sarang yaitu suatu teknik untuk mempercepat
pembangunan sarang. Hal ini dilakukan dengan memberikan frame
baru yang kosong tepat di tengah antara bingkai bingkai sarang yang
sudah berisi. Dalam manipulasi sarang, kita harus memperhatikan
kekuatan/populasi koloni lebah, sehingga tidak terjadi ada sarang yang
tidak digunakan atau ditinggalkan kosong.

8) Penangkaran Ratu/Pemecahan Koloni

Salah satu sifat alami lebah madu adalah mengadakan
reproduksi koloni. Untuk memperbanyak jumlah koloninya, seorang
peternak lebah dapat melakukan reproduksi koloni secara terkendali
melalui penangkaran ratu. Penangkaran sebaiknya hanya dilakukan
pada koloni yang populasinya relatif besar. Selain itu, sebaiknya
dilakukan pada masa pertumbuhan agar kedua koloni cepat kembali
kuat.

G. Memberi Makan Lebah
1) Sumber pakan

Lebah madu akan berkembang biak dan mempunyai koloni
yang besar/individu yang banyak jika kondisi lingkungan tempat tinggal
sangat mendukung. Lingkungan yang dibutuhkan adalah tersedianya
banyak tanaman berbunga penghasil nektar dan pollen serta cukup
cadangan makanan lainnya. Simpanan nektar (madu) yang banyak di
sarang akan merangsang pertumbuhan keluarga lebah yang baik, yaitu
dalam membuat sarang baru dan juga dalam memproduksi telur.
Sedangkan ketersediaan pollen di sarang yang cukup akan memberikan
kualitas generasi lebah yang baik, kuat dan lama hidup yang relatif
panjang.

Nektar adalah suatu zat yang mempunyai susunan yang sangat
komplek yang di hasilkan oleh kelenjar nektaria tanaman dalam bentuk
larutan gula dengan konsentrasi yang bervariasi. Nektar yang berasal
dari bunga (nektar flora) dan selain bunga (ekstra flora) terdapat pada
batang, daun dan ranting, namun ada kalanya berasal dari embun
madu (honey dew) yaitu cairan manis yang dikeluarkan oleh kutu
tanaman (Aphid). Pada kondisi normal umumnya lebah madu hanya
mengambil nektar flora, sedangkan ekstra flora diperlukan pada musim
paceklik saja (bahan membangun sarang). Produksi madu dari nektar
oleh lebah melalui proses kimiawi dengan kelenjar ludah dan kelenjar
makanan yang terdapat di kepalanya. Adapun komponen utama nektar
(madu) berupa gula (sukrosa,glukosa, dan fruktosa), dan komponenkomponen
lain seperti protein, asam organik, vitamin, pigmen, enzim,
mineral dan zat aroma

Produksi nektar dari tanaman ditentukan oleh musim. Pada
musim paceklik, yaitu saat musim kemarau panjang dapat
mengakibatkan produksi nektar berkurang. Cuaca panas kering
berangin, bunga akan rusak/tidak muncul sehingga nektar tidak dapat
keluar/tidak ada. Saat musim hujan, produksi nektar juga berkurang.
Hal ini karena nektar tersiram air hujan sehingga gula menjadi hanyut,
sehingga keadaan ini tidak disukai lebah.

Tepung sari (polllen) adalah serbuk sari bunga yang diambil
lebah dan dibawa ke sarangnya dengan dilekatkan pada kaki belakang.
Pollen merupakan sumber gizi utama atau sumber protein (lauk pauk).
Tepung sari sangat dibutuhkan oleh kehidupan lebah yaitu untuk
pertumbuhan, perkembangbiakan, dan perkembangan koloni, serta
sebagai bahan utama untuk royaljellly.

2) Manajemen pakan

Manajemen koloni lebah sangat tergantung kepada
keseimbangan pakan lebah. Apabila salah satu atau kedua komponen
pakan lebah tidak tersedia atau sedikit maka kehidupan lebah akan
terganggu. Akibatnya, lebah bisa hijrah, koloni mudah terserang
hama/penyakit, lama harapan hidup lebah pendek dan organ tubuh
lebah menjadi kurang lengkap.

Daya dukung pakan lebah pada suatu area memegang peranan
penting untuk mencapai keberhasilannya, baik dari segi produksi
maupun dalam mempertahankan populasi. Perlu mendapat perhatian,
komposisi jenis tanaman penghasil nektar dan pollen harus selalu
tersedia sepanjang tahun dan dalam keadaan seimbang yaitu 60%
nektar dan 40% pollen. Ketidaktersediaan kedua jenis pakan tersebut
atau salah satu diantaranya, mengakibatkan kondisi pemeliharaan lebah
tidak mencapai apa yang diharapkan.

Untuk mendukung tersedianya pakan lebah yang menghasilkan
nektar dan pollen sepanjang tahun pada suatu lokasi pemeliharaan,
perlu diambil langkah-langkah pendataan jenis tanaman pakan lebah
yang ada. Selanjutnya perlu dilakukan pengkayaan jenis tanaman
sesuai dengan kondisi ruang dan iklim dari keadaan lokasi tersebut.
Beberapa jenis tanaman dan jenis pakan yang dihasilkan yang sudah
terdata antara lain:
 
1. Aren Pollen
2. Kemlandingan Pollen
3. Randu Pollen & nektar
4. Karet Ekstra flora
5. Tebu Pollen
6. Panili Pollen & nektar
7. Kelapa Pollen & nektar
8. Kopi Pollen & nektar
9. Tembakau Pollen
10. Wijen Pollen & nektar
11. Jambu mete Pollen
12. Lengkeng Pollen & nektar
13. Kedondong Pollen & nektar
14. Durian Pollen & nektar
15. Jambu biji Pollen & nektar
16. Salak Pollen
17. Apel Pollen & nektar
18. Delima Pollen
19. Kesemek Pollen & nektar
20. Apokat Pollen
21. Blimbing Pollen & nektar
22. Macadamia Pollen
23. Mangga Nektar
24. Rambutan Nektar
25. Kaliandra Nektar
26. Jagung Pollen
27. Putri malu Pollen
28. Wedusan Pollen
29. Akasia Nektar
30. Sengon Nektar
31. Sonokeling Nektar

Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Jatim


3) Migratory(Pengangonan)
Yang dimaksud migratory disini adalah proses pemindahan
koloni lebah ke tepat yang tersedia pakan. Pengangonan ini dilakukan
apabila tanaman pakan lebah di lokasi pemeliharaan tersebut sedang
tidak musim bunga, sehingga perlu diadakan pengangonan ke daerah
lain yang ada musim bunga. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan
kondisi koloni lebah maupun tujuan produksi. Pengangonan ini biasanya
dilakukan hanya untuk lebah jenis mellifera, namun tidak untuk Apis
cerana. Pemindahan ini sebaiknya dilakukan pada malam hari, karena
lebah-lebah sudah masuk stup dan dalam keadaan tenang.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam proses
pemindahan yaitu :

o
Pada waktu sore hari lebah sudah masuk dalam stup maka pintu
stup segera ditutup.
o
Sisiran yang berisikan madu diambil dan diganti dengan fundasi
sarang.
o
Sisiran dirapatkan agar tidak mudah bergerak, kalau perlu bingkai
sisiran dijepit dengan paku.
o
Pada pengangkutan, diusahakan lubang-lubang dan ventilasi tidak
menghadap ke arah perjalanan.
o
Setelah sampai di tempat, pagi hari pintu dibuka sedikit demi
sedikit agar lebah pekerja mengenal situasi di daerah itu.
o
Jika perjalanan yang ditempuh jauh dan sampai bermalam, maka
di dalam stup disediakan feederframedan diisi dengan larutan air
gula secukupnya. Hal ini dimaksudkan untuk persediaan makan
selama perjalanan agar tidak terjadi kematian.
4)
Stimulasi (Penyirupan)

Stimulasi adalah pemberian makanan pengganti bila mana
terdapat lebah madu kosong/kering pada sarang. Ada kalanya kita
perlu memberikan stimulasi kepada lebah yang kita pelihara. Ini terjadi
pada saat jumlah dan kualitas pakan lebah di alam tidak mendukung.
Masa ini kita sebut masa paceklik. Stimulasi yang kita berikan berupa
larutan gula. Cara pembuatannya yaitu dengan melarutkan gula (gula
aren atau gula tebu) dalam air panas, dengan perbandingan yang sama
yaitu 1 kg gula dalam 1 liter air. Pemberian makanan tambahan
digunakan pada feeder frame yaitu semacam bingkai tempat mengisi
cairan pakan stimulan.

H. Hama, Predator, Penyakit dan Pengendaliannya
Faktor pendukung bagi habitat lebah madu adalah ada tidaknya
gangguan lingkungan, terutama hama pengganggu, predator dan
penyakit. Hama adalah organisme pengganggu yang dapat secara
langsung dikenali dari bentuk fisiknya, tanpa membutuhkan alat bantu
seperti mikroskop, cara pemangsaan terhadap inang dapat terlihat
dengan jelas. Predator lebah adalah hewan pemangsa lebah.
Sedangkan penyakit adalah gejala atau akibat dari pemangsaan
organisme pengganggu. Organisme pengganggu tersebut tidak dapat
dikenali secara langsung jenisnya kecuali dengan alat bantu seperti
mikroskop.

Dalam menangani hama predator dan penyakit digunakan istilah
pengendalian, karena pada prinsipnya adalah mengatur populasi jasad
pengganggu tersebut tetap dalam kendali. Pengendalian terhadap
hama dan penyakit tidak dapat dilakukan dengan sembarangan, tetapi
harus terlebih dahulu mengenali perilaku jasad pengganggunya. Cara
pengendalian hama dan penyakit adalah secara mekanis, kimiawi,
perbaikan varietas, secara biologi, sanitasi dan eradikasi.

Pengendalian mekanis merupakan pengendalian yang dilakukan
dengan memperlakukan jasad pengganggu secara mekanis. Sebagai
contoh adalah menangkap jasad pengganggu dan membinasakannya.
Cara ini dilakukan bila populasi pengganggu dalam jumlah sedikit dan
dapat dikenali dengan segera.

Pengendalian secara kimiawi dilakukan sebagai alternatif terakhir
apabila populasi jasad pengganggu dalam jumlah yang melebihi batas
kewajaran. Bahan kimia yang digunakan disesuaikan dengan jasad
pengganggu sasaran, baik jenis (insektisida, bakterisida, dll) maupun
formulasi (cairan, emulsi, butiran,dll).

Pengendalian dengan cara perbaikan varietas dimaksudkan untuk
mendapatkan generasi baru yang lebih tahan terhadap serangan jasad
pengganggu. Generasi yang lebih tahan didapatkan dari seleksi yang
ketat terhadap populasi yang ada dari berbagai lokasi.

Pengendalian secara biologi merupakan pengendalian yang
dilakukan dengan memanfaatkan kelemahan perilaku jasad
pengganggu, seperti memutuskan siklus hidup atau menggunakan
musuh alami dengan cara melepaskan musuh alami jasad pengganggu
dalam populasinya.

Sanitasi adalah pengendalian yang dilakukan dengan cara menjaga
lingkungan habitat/populasi inang agar tetap bersih, sehingga tidak
mengundang kehadiran jasad pengganggu. Sementara pengendalian
cara eradikasi adalah dengan memusnahkan inangnya, karena bila
dibiarkan atau dikendalikan dengan cara-cara tersebut di atas tidak bisa
atau terlalu mahal untuk dilakukan dan akan menyebabkan jasad
pengganggu menyebar lebih luas lagi.

Beberapa hama, predator dan penyakit yang dapat menyerang
lebah dan upaya pencegahan dan pengobatannya adalah sebagai
berikut:

a.
Hama dan Predator
1.
Tabuhan (Vespa)
Insekta ini termasuk dalam keluarga lebah, tetapi bertindak
sebagai pemangsa lebah madu. Masyarakat banyak menamakan
tabuhan dengan siring, tawon andas (Jawa) atau engang (Sunda).
Tabuhan memangsa lebah madu secara jelas dapat dilihat yaitu dengan
cara memangsa lebah yang berdiri di depan sarang atau sedang
terbang. Pengendalian secara mekanis dilakukan dengan menangkap
langsung menggunakan alat pemukul seperti raket atau jaring. Langkah
terbaik adalah membakar sarang-sarang tabuhan di sekitar apiari.

2.
Semut
Semut membangun sarang dalam stup dan merampas
makanan lebah. Pada serangan yang ringan tidak banyak menggangu,
tetapi pada serangan yang berat dapat mengakibatkan lebah hijrah.
Untuk menanggulangi serangan semut biasanya dibuat barier
(penghalang), yaitu dengan mengoleskan oli pada kaki bangku standar
agar semut tidak dapat naik mencapai koloni lebah. Khusus untuk
semut dalam jumlah sangat banyak, pengendalian dilakukan secara
kimiawi dengan insektisida, dengan catatan tidak mengenai lebah.

3.
Ngengat Lilin
Ngengat adalah serangga sejenis kupu-kupu yang aktifnya di
malam hari. Ngengat lilin banyak jenisnya, tetapi yang paling dikenal
adalah Galeria mellonella. Hama jenis ini sebenarnya hanya merusak
sarang lebah, tetapi bila koloni lemah dapat mengakibatkan lebah
hijrah. Pengrusakan sarang dilakukan oleh ulat ngengat dengan
memakan sarang dan membuat jaring-jaring putih yang dirangkai
menjadi lorog-lorong sebagai tempat sembunyi ulat karena ulat tidak
tahan terhadap cahaya terang dan panas.
Tindakan untuk mengatasi serangan ngegat lilin dilakukan
berbagai alternatif pengendalian, antara lain : 1) secara mekanis ,
dengan menangkap dan mematikan ulat (larva) ataupun telur ; 2)
mengecilkan pintu masuk stup; 3) memasukan sarang terserang pada
koloni yang kuat; 4) sanitasi lingkungan (membakar sarang rusak dan
tak terpakai) di lokasi apiari.

4.
Tungau (Akarina)
Merupakan salah satu hama penting pada lebah madu yang
hidupnya sebagi parasit pada larva, pupa atau lebah dewasa. Lebah
akan mati atau cacat karena cairan darahnya dihisap oleh tungau.
Tungau dibedakan ke dalam dua golongan yaitu endoparasit dan
ektoparasit.

Tungau yang tergolong endoparasit pada lebah adalah Acaropis
woodi. Tungau ini hidup pada saluran pernapasan (tungau nafas).
Ukuran tubuhnya lebih kurang 100 mm (mikro meter). A.woodi dapat
menyebabkan kematian lebah dengan tiba -tiba dan serangan awal
sulit dikenali. Penyebaran terjadi lewat pollen bunga dimana lebah
hinggap atau kadang-kadang lewat kontak tubuh lebah.

Tungau ektoparasit ada dua jenis yang sangat terkenal dan
sudah mewabah di dunia (kecuali Australia), yaitu Varroa jacobsoni
dan Tropilaelapsclarea.

a) Varroa jacobsoni

Pertama kali ditemukan oleh Oudemans (1940) pada koloni
lebah A.ceranadi Pulau Jawa. Tungau ini berwarna coklat kemerahan
dengan ukuran tubuh 1,6-1,1 mm. Sering menempel pada punggung
lebah dewasa, tetapi terbanyak terdapat dalam sel larva dan pupa,
terutama larva calon lebah jantan. Pada serangan ringan, lebah hanya
cacat tetapi pada serangan berat dapat mengakibatkan lebah mati dan
hijrah.

Tungau varroa merupakan ancaman yang sangat serius bagi
lebah madu dan hampir menjadi masalah dimana-mana. Tungau
hampir ada dalam setiap koloni dan tersebar luas di seluruh dunia.
Indonesia sendiri pernah mengalami ledakan serangan tungau varroa
pada pertengahan tahun 1990-an, yang mengakibatkan musnahnya 5060%
populasi koloni A. mel
llifera. Penyebaran V. jacobsoni biasanya
dibantu lewat kontak tubuh lebah yang membawanya atau biasa
tertinggal pada bunga dan kemudian menempel pada lebah yang
mengunjunginya.

b) Tropilaelapsclareae

Tungau T.clareae mirip V. jacobsoni, tetapi ukuran tubuhnya
lebih kecil dan lebih gesit bergerak yang akan menyebabkan
penyebaran yang lebih cepat. Warna tubuhnya coklat kemerahan
dengan ukuran 0,96 x 0,55 mm. Siklus hidup lebih pendek
dibandingkan V.jacobsoni.
Pengendalian tungau

Cara kimiawi yang sangat popular adalah dengan
menggunakan belerang dan kapur barus (dephtalen) dengan
perbandingan 1 : 1 dengan menggunakan satu sendok makan.
Campuran tersebut ditaburkan di atas karton, kemudian disisipkan
dibawah sisiran sarang pada sore hari dan diambil kembali besok
paginya. Diulang 3 –
4 kali dengan selang waktu 4 hari untuk
mengatasi tidak bersamaannya pembukaan sel.

Cara biologi yang dilakukan adalah dengan menggunakan
perangkap sisiran brood jantan dengan cara sisiran sarang jantan
dimasukan kedalam koloni. Setelah sel sarang diteluri lebah ratu dan
berkembang menjadi brood, kemudian sisiran sarang tersebut diangkat
dan dilakukan perlakuan. Hal ini dilakukan karena diketahui brood
jantan lebih disukai oleh tungau.

Cara mekanis untuk memusnahkan tungau, yaitu memisahklan
brood dari koloni atau mengurung ratu selama lebih kurang 2 minggu.
Dengan demikian tungau akan mati kelaparan.

5. Predator lainnya
Burung, katak dan kadal adalah hewan pemakan serangga.
Hewan-hewan tersebut menjadikan lebah sebagai salah satu
makanannya. Jenis predator lainnya yang sering kita jumpai adalah
capung besar (Epiophlebia) dan capung warna (Eshna).

b. Penyakit
Berbagai jenis penyakit yang dapat mengganggu lebah adalah
sebagai berikut:
AmericanFoulbrood(AFB)

AFB dalam bahasa Indonesia adalah penyakit busuk larva
Amerika (BLA). Jasad renik pengganggu tergolong bakteri yaitu Bacil
llus
larvae. Kelompok yang diserang adalah anakan lebah. Bakteri ini
mempunyai endospora yang tidak akan rusak dengan perlakuan apapun
kecuali dengan sinar X, sehingga dianjurkan bila dijumpai di lapangan,
segera membakar koloni tersebut sebelum larva menyebar.

Tanda-tanda serangan adalah sel anakan yang sakit dan sudah
tertutup berwarna gelap daripada sel anakan yang sehat. Sel sarang
sering berlubang dan agak cekung. Anakan yang mati warnanya
berubah menjadi putih kotor dan lama-kelamaan coklat kehitaman. Bila
larva yang mati dan masih basah ditusuk dengan dengan lidi yang halus
dan ditarik perlahan-lahan, larva tersebut akan menempel dan akan
membentuk semacam benang sampai 2,5 cm. Larva yang busuk berbau
menyengat, lama kelamaan akan kering, dan menempel pada dinding
dasar sel sehingga sukar dibersihkan.

Pemberantasan dapat dilakukan dengan pemberian antibiotika
misalnya Terramycin. Antibiotika diberikan dengan cara menaburkan
bubuknya atau mencampuri dengan larutan gula.
EuropeanFoulbrood(EFB)

EFB adalah busuk larva eropa ( BLE). Jasad renik pengganggu
tergolong bakteri yaitu Mel
lligococcus pluton. Pembusukan larva
mempunyai gejala seperti AFB, tetapi tidak berbau menyengat dan
tidak terentang bila diambil dengan tongkat penjepit. Bila serangan
masih ringan, segera mengganti ratu dengan ratu baru dan
menguatkan koloni yang lemah. Bila serangan berat campurkan
streptomycin0,2 – 0,6 gr dalam 4 liter sirup stimulasi.


PenyakitKapur (Chalk Brood)
Penyebab penyakit ini adalah jamur Ascosphaera apis. Jamur
ini tumbuh pada tempayak dan menutupnya hingga mati. Kelompok
yang diserang adalah anakan lebah. Tanda-tanda serangan dapat
diketahui pada larva yang mati biasanya berumur 3-4 hari. Larva
bewarna putih, membengkak karena tertutup myceliadari jamur, lama
kelamaan kemudian mengkerut dan mengeras seperti kapur. Cara
pemberantasan yang dapat dilakukan adalah memperkuat koloni dan
memperbaiki ventilasi sarang.
StoneBrood

Penyebabnya adalah jamur Aspergilllus flavus Link ex Fr dan
Aspergillus fumigatus Fress. Tempayak yang diserang berubah menjadi
seperti batu yang keras.
AddledBrood
Penyebabnya adalah telur ratu yang cacat dari dalam dan kesalahan
pada ratu.


Acarine
Penyebabnya adalah kutu Acarapis woodi Rennie yang hidup
dalam batang tenggorokan lebah hingga lebah mengalami kesulitan
terbang.


NosemadanAmoeba
Penyebabnya adalah Nosema Apis Zander yang hidup dalam
perut lebah dan parasit Malpighamoeba mellificae Prell yang hidup
dalam pembuluh malpighi lebah dan akan menuju usus.

Keracunan
Keracunan dapat dengan mudah ditemukan melihat banyaknya
lebah yang mati di sekitar sarang atau pintu kotak stup. Keracunan
sering terjadi pada waktu penyemprotan tanaman pertanian oleh
petani. Untuk mencegahnya dilakukan koordinasi dengan petani di
sekitar lokasi apiari, sehingga pada saat penyemprotan, pintu kotak
lebah sudah ditutup.

Mencret
Mencret akan dikenali dari banyaknya bercak kotoran dilantai
atau dasar kotak sarang. Untuk pengendalian diberikan stimulasi dan
bila stimulasi telah diberikan tetapi tidak banyak membantu, maka
stimulasi dikentalkan dan memperkuat koloni.
KesalahanGenetis

Kesalahan Genetis ditandai dari banyaknya larva yang tidak
lahir karena terjadinya perkawinan keluarga. Untuk mengatasinya
adalah dengan mengawinkan ratu dengan pejantan dari koloni yang
berbeda lokasi.
Stressdankelelahan

Stress dan kelelahan terjadi karena koloni terlalu kerja keras
saat musim panenan madu, sehingga kondisi tubuhnya menurun. Untuk
mengatasinya adalah dengan mengangon koloni lebah dilokasi yang
terdapat pakan dengan jumlah dan kualitas yang lebih baik.

I. Peralatan
Dalam pengelolaan lebah madu kadang kala petugas/peternak
perlu dilengkapi dengan berbagai perlengkapan. Jenis-jenis peralatan
perlebahan sebagai berikut :

-Pakaian kerja, terbuat dari bahan kain tebal, menutup semua
bagian tubuh untuk melindungi tubuh dari sengatan lebah.
-Sarung tangan yaitu bahan karet yang menutupi tangan, untuk
melindungi tangan dari sengatan.
-Sepatu, bahan karet, untuk melindungi kaki.
-Masker, yaitu bahan dari kasa, untuk menutup/pelindung muka
dan kepala tanpa menghalangi bidang pandang.

-Pengungkit, bahan terbuat dari besi/baja, untuk membantu
mempermudah melepas bingkai dari badan kotak.

-Sikat lebah, bahan berasal dari sabut/bulu hewan/bahan-bahan
yang lunak, digunakan untuk menghalau, menyikat atau
mempercepat menurunkan lebah dari bingkai ke badan kotak.

-Pisau pengupas madu, bahan dari besi/baja, stainless, digunakan
untuk mengerat/membuka lilin penutup madu dengan tidak
merusak sarang.

-Smoker/pengasap, bahan terbuat dari unsur kaleng, kain
terpal/mitasi. Prinsip kerjanya adalah penjinak lebah, yaitu dengan
menghembuskan asap sehingga lebah menjadi lebih jinak.

-Queen Cage (kurungan ratu), bahan terbuat dari unsur
kasa/plastik (roll rambut), fungsinya adalah pengurung lebah ratu
saat koloni lebah baru dipindahkan/proses pengenalan terhadap
tempat/kotak baru.

J. Pemanenan
Dalam pemeliharaan lebah di samping mempunyai tujuan
pengembangan juga tujuan produksi (madu). Tujuan pemanenan
produksi madu dapat diperoleh dari kotak eram atau dengan sistem
pensuperan.
1) Panenan dari Kotak Eram


Madu dari kotak eram bisa dipanen bila sisiran yang berisi madu
telah tertutup oleh lilin

Apabila sisiran belum menggunakan fondasi sarang, maka
dilakukan pemotongan sebatas sisiran yang berisi madu. Sisa
potongan yang berisi anakan dikembalikan ke dalam kotak.
Page | 33


panduan manual



Lakukan pemerasan madu dengan menggunakan kain kasa dan
penjepit kayu. Jangan membuang lilin sisa perasan ke sembarang
tempat, dikumpulkan untuk diproses (malam, fondasi sarang).

Dianjurkan tidak memanen madu semuanya. Sisakan sebuah sisiran
yang ada madu.
2) Panenan dari Kotak Super


Sistim pensuperan adalah suatu cara untuk menghasilkan madu
dari sisiran yang bebas anakan.

Cara pensuperan adalah dengan menyusun stup menjadi dua
tingkat atau lebih. Kotak bagian bawah untuk kotak eram sedang
bagian atas (super) khusus produksi madu. Antara kotak atas dan
kotak bawah hendaknya dipasang sekat ratu.

Proses pensuperan, pada mulanya yaitu angkat 1-2 sisiran yang
penuh dari kotak bawah ke kotak atas, dan sebaliknya sisiran dari
atas ditempatkan di kotak bawah. Bila sisiran yang di bawah telah
penuh maka dilakukan kegiatan yang sama hingga semua telah
penuh dan bingkai-bingkai di kotak atas terisi madu. Dengan
demikian madu siap diperas/diekstrak.
3) Alat Peras/Panen Madu Ekstrator

Adalah sarana yang digunakan untuk mempermudah dan
mempercepat pemanenan madu (alat peras madu). Prinsip kerjanya
yaitu memutar sarang madu/sisir madu (dengan gaya centrifugal)
sehingga madu keluar dengan sendirinva. Bahan yang digunakan
adalah material yang tak bereaksi dengan madu (misalnya stainless).

Pada mulanya ekstrator hanya digunakan untuk sisiran yang
menggunakan fondasi sarang, namun kini untuk tujuan pemerasan
tersebut sudah ada ekstrator untuk sisiran tanpa fondasi sarang. Caracara
pemerasan dengan ekstrator sebagai berikut :


Sebelum dimasukkan ke dalam ekstrator terlebih dahulu dikupas
tutup sisiran madu dengan pisau yang telah direndam dengan air
hangat.

Kemudian masukkan sisiran tersebut dan putarlah ekstrator secara
perlahan agar anakan tidak ikut terjatuh.

Saring madu hasil perasan ataupun pengekstrakan dengan
menggunakan kain kasa.

Segera masukkan madu pada botol kemasan dan tutup dengan
rapat. Simpan madu di tempat yang kering dan bersih serta tidak
berbau.


Sumber : http://www.balithut-aeknauli.org/image/lebahmadu.pdf

Administrator Artikel Rabu, 2015-10-21, 16:58:46 WIB 1 Komentar

Komentar (0)

<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>

Tinggalkan Komentar